DINAMIKA KETHOPRAK WAKAS BUDOYO DI
KABUPATEN TRENGGALEK (1981-2013): POTRET PELESTARIAN SENI TRADISI
PROPOSAL SKRIPSI
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Seminar
yang dibina oleh Bapak Drs. Mashuri,
M. Hum.
oleh:
Estu Palupi
Maharani 110731407188
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
Mei 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam
kerangka keIndonesiaan, generasi muda sekarang lebih senang dengan hal-hal yang
berbau luar negeri daripada asli Indonesia. Apalagi terhadap budaya Jawa yang
dianggap sudah pasti kuno. Misalnya, masyarakat sekarang lebih suka menonton
film televisi (sinetron atau drama) daripada menonton kethoprak, mendengarkan
lagu Korea atau Barat daripada Gending Jawa. Bahkan lebih celaka lagi, kaum
muda sudah tidak mengerti apa itu kethoprak, apalagi memainkannya.
Padahal dengan penduduk mayoritas Jawa,
eksistensi budaya Jawa akan sangat mempengaruhi budaya Indonesia. Dengan
demikian, ketika kesenian atau kebudayaan Indonesia, atau lebih khususnya lagi
Jawa, mulai ditinggalkan oleh generasi muda maka identitas asli Indonesia, khususnya
kesenian, akan hilang. Dan dari segi kebudayaan, maka Bangsa Indonesia akan
hilang ditengah budaya global. Untuk menjaga agar Bangsa Indonesia tidak hilang
dari muka bumi, maka nilai-nilai budaya Indonesia harus terus dipelihara
eksistensinya. Dan karena mayoritas bangsa Indonesia adalah Jawa, maka
mempertahankan budaya Jawa, yang salah satu diantaranya adalah kesenian Jawa,
adalah suatu keniscayaan. Jika kita tidak ingin budaya Indonesia hilang
ditengah arus globalisasi, maka kita sudah seharusnya menjaga dan
melestarikannya.
Di
era global ini, di Indonesia banyak bermunculan sajian modern di televisi,
misalnya sinetron, musik, dan film yang tidak sesuai dengan budaya Jawa. Jika
sajian hiburan yang dinilai dapat mengikis nilai-nilai budaya sebagai identitas
Bangsa Indonesia ini tidak mendapat “tandingan”, maka lambat laun masyarakat
tidak punya alternatif sajian lain lain sebagai tuntunan atau panutan, akhirnya
pada titik tertentu identitas bangsa Indonesia akan benar-benar hilang. Dan
disitulah Indonesia secara “kebangsaan” akan hilang. Karena itu, harus ada
kesenian yang dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang mampu digemari
masyarakat, agar nilai-nilai budaya Jawa tidak hilang. Disinilah peran penting
dari keberadaan kelompok seni drama traisional, dimana keberadaan kelompok seni
drama tradisional, yang diharapkan mampu menjadi sarana penanaman nilai-nilai
budaya tradisional sekaligus menjadi tuntunan bagi masyarakat.
Tugas
ini cukup berat, karena dalam kenyataannya masyarakat modern cenderung memilih
sejian yang cenderung bernuansa luar daripada dalam negeri. Dengan demikian,
otomatis audience yang disuguhi seni
tradisi semakin sedikit. Dan celakanya, semakin sedikit pula kaum terpelajar
yang mau menikmati kesenian tradisi, apalagi yang mau menggluti dan sekaligus
melestarikan keberadaan seni tradisi.
Di
sisi lain, secara ekonomis, menyajikan kesenian tradisi memerlukan biaya lebih
banyak dengan nilai jual yang tidak seberapa. Sehingga jika tolok ukurnya
ekonomi, maka akan banyak kelompok kesenian tradisional yang bangkrut.
Memainkan musik gamelan memerlukan biaya lebih mahal daripada memainkan musik
modern. Karena dari sisi pemain, gamelan butuh pemain minimal 9 orang,
sedangkan alat musik modern cukup satu orang sudah bisa tampil maksimal. Belum
lagi ketika berbicara tentang pelestarian bagi pemula, untuk bisa membawakan
kesenian tradisional harus menghayati nilai-nilai budaya yang menjadi akar dari
kesenian yang digeluti tersebut.
Ditengah beratnya “tugas” yang
diemban oleh keberadaan kelompok seni tradisional sebagaimana tersebut diatas,
ternyata banyak yang tetap eksis dengan berbagai kondisi. Seni wayang kulit,
banyak sekali dalang yang terkenal dan bertahan. Di sisi lain, seni Ludruk dan
Kethoprak semakin sedikit yang bisa tetap bertahan. Diantara yang sedikit itu,
salah satu yang mencoba bertahan adalah Kethoprak Lusandra. Yang dengan
dinamikanya telah berevolusi menjadi Wakas Budoyo.
Kethoprak adalah drama
tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian dan digelarkan di sebuah
panggung dengan mengambil cerita dari sejarah, cerita panji, dongeng dan
lainnya dengan diselingi lawak. Ketoprak muncul pada tahun ± 1922 pada masa
Mangkunegaran. Kethoprak berbeda dengan ludruk maupun wayang orang. Perbedaan
kethoprak dengan ludruk adalah jika kethoprak mempunyai cerita yang diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun
dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk
menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik. Sedangkan
perbedaan antara kethoprak dengan wayang orang adalah jika kethoprak
adalah sebuah bentuk teater Jawa dengan unsur utama dialog, tembang
dan dagelan / lawakan yang diiringi dengan gamelan Jawa,
mengambil cerita dari dongeng, babad dan sejarah
cerita rakyat dan menggunakan dialog bahasa Jawa Modern. Sedangkan wayang orang
adalah seni pertunjukan yang memadukan tiga cabang kesenian yaitu tari, drama
dan karawitan, mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata, dan menggunakan dialog
bahasa Jawa Kuno. (Putra,1999).
Wakas Budaya, sebagai hasil evolusi
dari Lusandra yang merupakan salah satu dari sekian banyak kelompok kesenian
yang nguri-uri kesenian dan budaya
Jawa dalam setiap pementasannya selalu memasukkan nilai-nilai budaya Jawa
adalah sekelompok “pejuang budaya” yang rela berkorban untuk tampil, menghibur
sekaligus memberi tuntunan nilai budaya kepada masyarakat. Dikatakan pejuang
budaya karena “keganjilan”nya ditengah banyaknya budayawan yang lebih
mengutamakan nilai ekonomi. Misalnya, untuk bisa menampilkan suatu pertunjukan
untuk masyarakat luas, para pemain harus mengeluarkan uang. Dan dalam
penampilannya, para penonton tidak pernah dipungut biaya sepeserpun. Jadi,
penampilan Wakas Budaya ini murni untuk menghibur sekaligus memberi tuntunan
nilai budaya kepada masyarakat.
Adapun penelitian terdahulu
yang berkaitan dengan Dinamika Kethoprak Wakas Budoyo di Kecamatan Gandusari
Kabupaten Trenggalek (1981-2013): Potret Pelestarian Seni Tradisi yaitu:
1.
Motif Lawakan dalam
pagelaran Ketoprak Cahyo Mudho Lakon Putri Cina Sam Pek Eng Tai Oleh Muhammad
Khazin (2010).
Hasil
dari penelitian ini yaitu terdapat beberapa tuturan yang terdeteksi sebagai
motif humor. Motif tesebut antara lain: sinisme, plesetan, apologisme, dan
seks. Kemudian makna yang terkandung dalam humor-humor tesebut antara lain:
menghina (membuat mati kutu lawan main), menghibur (memancing tawa para
penonton), menyampaikan pesan atau kritikan, berkilah (beralasan), dan
mengalihkan pembicaraan. Kemudian fungsi dari motif-motif humor tersebut yaitu:
1) fungsi melaksanakan segala keinginan dan segala tujuan gagasan pesan, 2)
fungsi menyadarkan orang bahwa dirinya tidak selalu benar, 3) fungsi menghibur,
dan 4) fungsi membuat orang mentoleransi sesuatu. Efek yang ditimbulkan oleh
lontaran humor dalam ketoprak Putri Cina Sam Pek Eng Tai didasarkan pada
keadaan situasi dan kondisi penonton yaitu: tertawa, tersinggung, dan merasa
risih.
2.
Di Atas Panggung
Harapan: Potret Keadaan Batin Seniman Ketoprak Siswa Budaya Tulungagung di Masa
Modern oleh Triaz Safitri (2007).
Hasil
penelitian ini yaitu memberikan kontribusi baik secara materi terlebih kepada
batin mereka. Para seniman mengenal kesenian ketoprak
baik karena bakat alami mereka maupun karena faktor keturunan dan lingkungan
yang membesarkan mereka. Seiring dengan perkembangan jaman yang lebih modern
kesenian ketoprak menjadi salah satu hiburan yang
termarginalkan. Hal ini berpengaruh terhadap keadaan batin seniman ketoprak yang pada umumnya sangat terguncang dan muncul
berbagai rasa yang merupakan ungkapan jiwa mereka sebagai seniman dengan latar
belakang budaya Jawa, seperti misalnya perasaan nrima (menerima), pasrah, dan
juga isin (malu).
Di
tengah keadaan batin para seniman yang mulai tidak stabil karena proses
perubahan ini, ternyata tidak memengaruhi eksistensi para seniman ketoprak untuk tetap mempertahankan kesenian ketoprak meskipun dengan keadaan yang penuh dengan
keterbatasan. Para seniman ketoprak tetap menunjukkan
eksistensi mereka dalam bentuk eksistensi lahir maupun eksistensi batin
mereka. Eksistensi lahir para seniman dalam hal ini berhubungan dengan
bagaimana bentuk dan upaya para seniman untuk mempertahankan eksistensi
mereka mendapatkan penghasilan secara materi untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, sedangkan eksistensi batin adalah bentuk dan upaya para seniman
untuk tetap bisa berkarya di atas panggung. Eksistensi lahir maupun batin yang
ditunjukkan para seniman akan saling berhubungan dan memengaruhi satu dengan
yang lain.
3.
Ketoprak Wahyu
Manggolo di Pati pada Tahun 1945-1965 (Kajian Sejarah Kesenian), oleh Oktafiani
Wulan Hapsari (2012).
Hasil
penelitian ini yaitu Asal mula ketoprak
Wahyu Manggolo berdiri pada 12 April 1940, yang di prakasai Manggolo. Dia tidak
mau sebuah kesenian Tradisonal luntur karena perkembangan zaman maka Manggolo
bersama keluarganya mencoba untuk melestarikannya dengan mewariskan grup
kesenian ketoprak dengan beberapa keturunannya yang salah satu dari anaknya
sekarang masih memimpin dan melestarikan kesenian ketoprak yang bernama Mogol.
Pemain ketoprak pada tahun 1945-1965 masa pasca revolusi mengalami keterbatasan
dalam berbagai hal, terutama dalam hal pementasan. Para pemain dan seniman
ketoprak wahyu manggolo sangat terkekang dalam kebebasan berekspresi.
4. Deskripsi Situasi Dialog Dalam
Sandiwara Ketoprak “Suminten Edan”
Hasil dari penelitian ini ialah adanya tahapan atau
tingakatan dalam tutur bahasa yang digunakan dalam ketoprak, dalam skripsi ini
ketoprak yang berlakon suminten edan. Para priyayi menggunakan krama inggil
dalam percakapan dengan sesama priyayi, sedangkan sesama para orang golongan
bawah menggunakan kromo madya.
B. Rumusan Masalah
Menurut
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang (PPKI-UM) (2013:12)
“perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat
pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya”
Hal itulah dalam pembahasan
berikutnya, permasalahan yang ada akan penulis batasi, sehingga berdasarkan
latar belakang diatas penulis dapat merumuskannya sebagai berikut:
1. Bagaimana
dinamika perjalanan Kethoprak Lusandra yang bermetamorfosis menjadi Wakas
Budoyo dalam mempertahankan eksistensinya di tengah melimpahnya sajian budaya
populer?
2. Bagaimana
Kethoprak Wakas Budoyo menjaga dan menanamkan nilai-nilai Budaya Jawa?
C.
Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan judul skripsi ini, maka kegunaan penelitian
skripsi tentang DINAMIKA KETHOPRAK WAKAS BUDOYO
DI KABUPATEN TRENGGALEK (1981-2013): POTRET PELESTARIAN SENI TRADISI ini dapat diperinci sebagai berikut:
1.
Bagi Peneliti
Penelitian
dalam penulisan skripsi ini berguna untuk menambah ilmu pengetahuan serta wawasan khususnya di
bidang Ilmu Sejarah Kebudayaan, dan sebagai salah satu syarat kelulusan untuk
memperoleh gelar sarjana di Universitas Negeri Malang.
2. Bagi
Jurusan Sejarah
Penelitian
dalam penulisan skripsi ini dapat menambah jumlah dan keragaman referensi yang
ada khususnya mengenai Ilmu Sejarah Kebudayaan dan dapat digunakan sebagai
acuan dalam penelitian lanjutan maupun sejenis.
3.
Bagi Masyarakat
Memberikan pengetahuan dan mengenalkan kepada khalayak
ramai bahwa di Kabupaten Trenggalek terdapat kesenian kethoprak, salah satunya
adalah Wakas Budoyo serta bagaimana dinamika kethoprak tersebut sejak dibentuk
pada tahun 1981 hingga tahun 2013.
D.
Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu prosedur, proses atau teknik yang
sistematis dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk mendapatkan
objek (bahan-bahan) yang diteliti. Metode yang penulis
gunakan adalah metode penelitian sejarah (historical research). Dalam ilmu sejarah metode berarti ”bagaimana mengetahui
sejarah” (Sjamsudin. 1996: 32). Metode sejarah mempunyai lima tahap, yaitu: (1) pemilihan topik, (2)
pengumpulan sumber, (3) verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), (4)
interpretasi: analisis dan sintesis, dan (5) penulisan atau historiografi
(Kuntowijoyo, 1994:90).
1. Pemilihan
Topik
Topik yang dipilih
sebaiknya berdasarkan: (1) kedekatan emosional dan (2) kedekatan intelektual (Kuntowijoyo,
1994:91). Topik yang penulis pilih adalah
mengenai kesenian. Topik ini penulis pilih karena dalam hal kedekatan
emosional, penulis merasa mempunyai kedekatan emosional karena penulis lahir
dan tumbuh di antara keluarga besar yang hampir semuanya berkecimpung di dunia
seni, khususnya seni peran. Sedangkan kedekatan intelektual, peneliti telah
menempuh Sejarah Kebudayaan yang dilakukan sebagai landasan untuk melakukan
penelitian ini.
2. Pengumpulan
Sumber
Heuristik
adalah pengumpulan sumber-sumber sejarah (Sjamsuddin, 1996:66). Dalam melakukan penelitian sejarah, penulis
juga membutuhkan sumber-sumber sejarah agar dapat menguatkan argumentasi penulis
mengenai sejarah yang ditulis. Menurut
penyampaiannya, sumber itu dapat dibagi ke dalam sumber primer dan sumber
sekunder (Kuntowijoyo,
1994:97).
Sumber primer yang akan penulis gunakan adalah dari hasil wawancara dengan para
pelaku, dalam hal ini adalah penulis lakon dan pemain Kethoprak Wakas Budoyo
yang telah bergabung dengan kelompok kesenian ini mulai dari awal terbentuk. Mereka
saya pilih menjadi sumber primer karena mereka benar-benar mengalami dan
mengetahui bagaimana perjalanan karir Wakas Budoyo mulai awal terbentuk hingga
sekarang. Selain itu, dari masyarakat sekitar yang mengikuti perkembangan
kethoprak ini (penonton). Narasumber-narasumber ini saya pilih karena demi
menjaga kevalidan data yang diberikan.
Selain itu, juga menjaga agar tidak terjadi keberpihakan (bias). Sedangkan
sumber sekunder yang akan penulis gunakan adalah buku-buku yang terkait dengan
Kesenian Kethoprak.
3. Verifikasi
Verifikasi adalah kritik sejarah atau keabsahan
sumber. Kuntowijoyo
menjelaskan tahap lanjutan dari heuristik adalah verifikasi atau kritik sejarah
atau keabsahan sumber. Verifikasi ada dua macam: autensitas, atau keaslian
sumber, atau kritik ekstern, dan kredibilitas, atau kebiasaan dipercayai, atau
kritik intern. Dalam metode sejarah, verifikasi dikenal dengan dua cara, yaitu
kritik intern dan ekstern (Kuntowijoyo,
1994:104).
a) Kritik
intern
Kritik intern adalah kritik
terhadap aspek-aspek dalam dari sesuatu sumber atau teks, mempertanyakan
kredibilitas dan atau reliabilitas isi sumber atau teks (Kuntowijoyo,
1994:151). Peneliti berusaha untuk menerapkan
kritik intern terhadap data yang ditemukan dan melakukan pembandingan
atau penyilangan isi baik sumber tertulis maupun sumber lisan. Tujuan dari hal
ini adalah untuk mengukur tingkat kredibilitas sumber yang digunakan sehingga
lebih berhati-hati dalam pemakaiannya dalam penyusunan historiografi.
b) Kritik
ekstern
Kritik ekstern ialah cara
melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek luar dari sumber
sejarah. Fungsi kritik
ekstern adalah memeriksa sumber-sumber sejarah atas dasar dua butir pertama dan
menegakkan sedapat mungkin otensitas dan integritas dari sumber tersebut. Peneliti
akan berusaha mengkritisi
sumber dari aspek eksternal seperti apakah informan kunci benar-benar orang
yang kompeten atau tidak dan sebagainya.
Penelitian dengan menggunakan pendekatan
kualitatif, keabsahan data dikontrol dengan metode
triangulasi. Menurut Patton, triangulasi dengan sumber berarti membandingkan
dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui
waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Teknik triangulasi menurut Patton dapat dicapai dengan cara:
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan
secara pribadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi
penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai
pendapat pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan
menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen berkaitan (Rachman, 1999).
4.
Interpretasi
Interpretasi
atau penafsiran sejarah adalah melakukan analisa dari fakta yang diperoleh dari
sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta
tersebut ke dalam interpretasi yang menyeluruh (Abdurrahman, 1999:64). Interpretasi atau penafsiran sering disebut sebagai
biang subjektifitas. Subjektifitas peneliti sejarah diakui, tetapi untuk
dihindari (Kuntowijoyo, 1994:102). Interpretasi dibagi menjadi dua macam, yakni:
a)
Analisis
Analisis
berarti menguraikan (Kuntowijoyo,
1994:102). Dalam
proses analisis ini akan menghasilkan fakta. Peneliti melakukan analisis
terhadap sumber yang masuk dan kemudian akan menghasilkan suatu fakta yang
nantinya digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini. Dalam penelitian ini digunakan penelitian kualitatif, yang cenderung
dipakai dalam penyusunan penelitian ini. Lebih lanjut penelitian kualitatif dijelaskan sebagai berikut : mengacu
kepada beberapa istilah, maka yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah
prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang diamati (Rachman, 1999:118).
Setelah data terkumpul dari hasil pengamatan data maka diadakan
suatu analisis data untuk mengolah data yang ada. Analisis data dilakukan
dengan mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola kategori dan satuan
uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja
seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2000:103).
Analisis data dilakukan secara induktif yaitu mulai
dari laporan atau fakta empiris dengan cara terjun kelapangan mempelajari,
menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di
lapangan. Analisis data didalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan
dengan proses pengumpulan data. Miles
dan Huberman dalam Rachman menjelaskan penyajian dua model pokok analisis
yaitu:
Pertama, model analisis mengalir dimana tiga komponen analisis
(reduksi,sajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi) dilakukan saling
menjalin dengan proses pengumpulan data mengalir bersamaan. Kedua, model
analisis interaktif, dimana komponen reduksi data dan
sajian data dilakukan bersamaan dengan proses
pengumpulan data. Setelah data terkumpul, maka tiga
komponen analisis (reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan) berinteraksi. Untuk mempermudah pemahaman, maka peneliti
melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Reduksi data
a) Data yang telah terkumpul dipilih dan dikelompokkan berdasarkan
data yang mirip sama.
b) Data itu kemudian diorganisasikan untuk mendapat simpulan data
sebagai bahan penyajian data.
2.
Penyajian data
Setelah data diorganisasikan, selanjutnya data disajikan dalam
uraian-uraian naratif yang disertai dengan bagan atau tabel untuk memperjelas
penyajian data.
3.
Penarikan data
Setelah data disajikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan dan
verifikasi untuk mempermudah tentang metode analisis tersebut.
b)Sintesis
Sintesis
adalah menyatukan (Kuntowijoyo,
1994:103).
Dari kumpulan fakta tersebut akan menjadi rangkaian fakta. Rangkaian fakta itu
akan menjadi sebuah peristiwa yang nantinya akan digunakan dalam penulisan karya
ilmiah ini.
5.
Historiografi
Historiografi adalah kegiatan intelektual yang
dilakukan oleh sejarawan untuk mengerahkan segala kemampuan intelektualnya
dalam membuat deskripsi, narasi, analiti kritis, serta sintesis dari
fakta-fakta, konsep-konsep, generalisasi, teori, hipotesis sehingga
menghasilkan suatu bentuk penulisan sejarah yang utuh yang disebut
historiografi (Sjamsuddin, 1996:177). Dalam melakukan historiografi ada beberapa aspek yang
tidak dapat ditinggalkan oleh peneliti. Aspek itu adalah aspek kronologi. Aspek
kronologi sangat penting karena peneliti
berusaha memaparkan fakta-fakta yang ada secara kronologis (Sjamsuddin, 1996:104).
Abdurrahman, Dudung. 1999. Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Arikunto,
Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Erwida,
Septa. 2013. Teater Tradisional Kabupaten
Trenggalek “Kesenian Lusandra”. Trenggalek: Penerbit Pribadi.
Harsono, Pudji. 1986. Berita Acara Rapat Anggota Khusus Perubahan
Anggaran Dasar Paguyuban Seni Tradisional Lusandra No. Induk
3320/Org/D-4/Bidkes/Jt/1986 Tanggal 19-10-1986. Trenggalek: Penerbit
Pribadi.
Kuntowijiyo, 1994. Metode Sejarah. Yogyakarta : Tiara Wacana Jogya.
Lisbijanto,
Herry. 2013. Ketoprak / GHI. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Moleong,
Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mukarwanto,
Budi. 1992. Kethoprak Lusandra Sebagai
Sarana Penanaman Moral dan Pelestarian Budaya di Kabupaten Trenggalek. Trenggalek: Penerbit Pribadi.
Mukarwanto,
Budi. 2013. Labuh Tresno Saboyo Pati:
Pagelaran Kethoprak Wakas Budaya Kanggo Nguri-Uri Budaya Jawa. Trenggalek: Penerbit Pribadi.
Purwaraharja, Lephen. 1997. Ketoprak Orde Baru: dinamika teater rakyat Jawa di era industrialisasi budaya. Jogjakarta: Yayasan Bentang Budaya untuk Panitia Ketoprak dan Dagelan Mataram,
Festival Kesenian Yogyakarta IX.
Putra,
Heddy Shri Ahimsa. 1999. Ketika
Orang Jawa Nyeni. Jogjakarta: Galang Press.
Rachman,
Maman. 1999. Strategi dan
Langkah-langkah Penelitian.
Semarang: IKIP Semarang Press.
Sjamsudin,
Helius. 1996. Metodologi Sejarah. Jakarta: Depdikbud.
Soemardjono.
1985. Tuntunan Seni Kethoprak. Yogyakarta:
Kanwil Depdikbud.
Sudyarsana, Handung Kus. 1989. Ketoprak. Yogyakarta: Kanisius.
Sujarno, Drs, dkk. 2003. Seni
Pertunjukan Tradisional, Nilai, Fungsi, dan Tantangannya. Yogyakarta:
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
|
Beberapa dokumentasi penampilan Kethoprak Wakas
Budoyo dari tahun 1981 - 2013
16







0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda